resensi novel Tenggelamnya kapal Van Der Wijeck

Judul buku      : Tenggelamnya kapal Van Der Wijeck.
Penulis             : Hamka.
Penerbit           : PT. Bulan Bintang.
Tempat terbit   : Jakarta
Tahun              : 1976.
Tebal               : 232 halaman.
Panjang buku  : 14.5 x 21.5 cm
Harga buku     : Rp. 235,000


Tenggelamnya Van Der Wijeck ini mencerikan tentang dua muda-mudi yang menjalin cinta yang tak kesampaian disebabkan karena perbedan suku sehingga berakhir dengan kematian. Jalan ceritanya dilatar belakangi dengan peraturan-peraturan adat pusaka yang kokoh dan kuat dalam suatu negeri yang bersuku dan berlembaga, barkaum kerabat dan berninik mamak.
            Cerita ini bermula dari kisah pertengkaran antara pendekar Sutan dengan mamaknya yaitu Datuk Mantari Labih yang memperebutkan warisan harta peninggaln ibunya. Akhirnya terjadi pembunuhan yang dilakukan pendekar Sutan terhadap Datuk Mantari Labih sehingga ia ditangkap dan dibuang ke Cilacap selama 12 tahun. Setelah ia bebas, ia tinggal di Mengkasar dan akhirnya kawin dengan Daeng Habibah dan memperoleh anak, dialah Zainuddin.
            Tetapi setelah beberapa lama kemudian ibunya Zainuddin meninggal dunia dan kemudian ayahnya menyusul. Zainuddin dititipkan pada mamaknya yaitu Mak Base. Lama kelamaan Zainuddin ingin pergi ketanah airnya yaitu di Minagkabau dan ingin mengambil harta warisan ayahnya. Tetapi disana ia tidak dikenali oleh siapapun, sehingga ia menderita. Hanya seseorang perempuan muda yang mau mendengarkan ceritanya, menumpahkan segala persaannya dan dialah Hayati . Hayati adalah anak orang terpandang di Minagkabau.
            Dia merupakan wanita idaman Zainuddin, dengan kelembutan hatinya yang membuat Zainuddin semakin mencintainya. Sedangkan mamak Hayati tidak merestui hubungan cinta antara Hayati dan Zainuddin. Hayati menuruti ucapan mamaknya untuk menerima pinagan dari Azis. Azis adalah kakak dari sahabat Hayati yang bernama Khodijah.
            Pada suatu hari Hayati dijodohkan dengan Azis, kemudian mereka menikah. Dalam kehidupan rumah tangganya selama di Minagkabau mereka amat bahagia tetapi setelah mereka pindah ke Jawa, rumah tangganya menjadi berantakan. Setelah harta benda mereka habis Hayati dan Azis menumpang dirumah Zainuddin, setelah itu Azis pergi ke Jakarta dan kemudian ia bunuh diri disebuah hotel. Zainuddin sendiri tidak memaafkan kesalahan Hayati dimasa lalu, akhirnya Hayati disuruh pulang ke Padang dengan naik kapal.
            Ditengah-tengah perjalanan kapal tersebut tenggelam, setelah Zainuddin mendengar berita tersebut langsung menuju ke Rumah Sakit, pada saat itu Hayati diselamatkan oleh penagkap ikan, sesampainya di Rumah Sakit seorang juru rawat memberi tahu tempat Hayati dirawat. Zainuddin menyesali kesalahannya setelah melihat selendang berlumuran darah yang bertuliskan namanya, beberapa saat kemudian Hayati sadar dan menyuruh Zainuddin untuk membaca dua kalimat syahadat, dan setelah tiga kali kalimat syahadat itu diucapkan oleh Zainuddin dia menghembuskan nafas terakhir.
            Sepeninggalan Hayati Zainuddin menjadi sakit-sakitan, tidak lama kemudian Zainuddin meninggal dunia dan dimakamkan dekat pusara Hayati, dan untuk harta peninggalan Zainuddin diwariskan lepada Muluk sahabat Zainuddin.
            Ceritanya dikemas dengan begitu menarik, syair-syair yang digunakan melukiskan keindahan bahasa pengarang. Ceritanya yang tidak monoton sehingga kita tidak bosan untuk membacanya.
            Penggunaan bahasa asli yang digunakan pengarang terkadang menyulitkan pembaca dalam menyelami karyanya. Hal ini terjadi karena bahasa yang dipakai terkadang telah tergeser oleh kosa kata baru maupun serapan yang sering dipakai oleh orang orang saat ini.
Novel ini baik untuk dijadikan bahan ajaran disekolah, karena banyak pelajaran-pelajaran yang dapat diambil dari novel ini. Syair-syair pun begitu indah juga gaya bahasa yang digunakan begituberagam. Novel ini dianjurkan untuk tingkat menengah atas (SMA) ke atas, karena pembahasaannya yang sulit dimengerti.
            Amanat yang mungkin bisa kita ambil dari novel ini adalah kita harus lebih memperhatikan adat istiadat dan budaya kita dan budaya suku lain di negeri ini. Apa lagi di zaman sekarang ini, tak banyak remaja yang mempelajari dan mencintai adat istiadat dan budaya daerahnya sendiri padahal kalau bukan kita siapa lagi yang akan menjaga kekayaan budaya bangsa besar ini. Kesetian, kejujuran dan kebenaran akan senantiasa mendapat cobaan, jangan pernah menyerah dan putus asa untuk menggapai ingin mu, segala rintangan yang ada, harus dijadikan cambuk untuk terus maju, tak ada kemenangan tanpa adanya perjuangan, hidup adalah sebuah perjuangan dan pengorbanan, jangan menuduh orang yang belum tentu bersalah tanpa adanya bukti, setiap cobaan yang datang untuk menguji iman seseorang, cinta tidak harus memiliki, dan kita harus rela dan ikhlas ketika seseorang yang telah kita sayangi telah pergi, kecintaan seseorang dapat membuat orang melakukan apa saja untuk orang yang dicintainya, bahkan hal yang membuat gila sekalipun, sejahat-jahatnya orang pada akhirnya ia sadar apa yang ia lakukan itu selama ini salah, dan bertaubatlah dalam perbuatan yang sangat kejam itu menjadi berbuat baik.
           


0 komentar to "resensi novel Tenggelamnya kapal Van Der Wijeck"

Post a Comment

close
close

Fans Page

Followers

Blog Archive