Resensi Novel Remaja
Judul : Pelangi jingga
Penulis : Isyak Syukira
Penerbit : MedPress (Anggota IKAPI)
Cetakan : 2010
Tebal : 152 halaman; 13x19 cm
ISBN (10) : 979-788-247-0
ISBN (13) : 978-979-788-247-1
Dikamar Jingga
“Ha?, Apa?, Yang mana?”, Jingga kebingungan meski Vincent menunjuk lukisan didepannya. Tatapan Jingga kosong, namun Vincent tak juga menyadarinya.
“Oh..., ini pelangi”.
“Hitam?” Vincent heran.
“Hitam....?! Eh..., ehmm... maksud gue..., iya, gue lagi pengen aja nglukis pelangi hitam”. Padahal jingga sama sekali tidak tahu kalau yang dilukisnya adalah pelangi hitam.
“Lagi sedih ya?”
“Ah enggak juga”, Jingga berusaha menyangkal.
Kecelakaan di sebuah senja itu membuat Jingga kehilangan penglihatannya. Semua yang ada didepanya sekarang hanyalah warna hitam. Namun ia tetap tidak ingin berhenti melukis. Dalam kebutaan itu, Jingga melukis kesukaannya dengan warna hitam.
Sementara itu Ello, cowok teman sekelas jingga selalu sabar menjaganya dengan sepenuh hati. Sambil memendam terus berharap suatu saat mendapatkan hati Jingga yang selalu terhambat pada masa lalu. Pada Vincent, sahabat kecilnya yang sekarang sekolah di Paris.
Namun, saat Vincent kembali ke Indonesia dan mendapati Jingga dalam keadaan buta, semua menjadi beda. Ada satu kenyataan menyakitkan yang tidak mudah ia terima. Tentang seseorang yang menyebabkan mata Jingga buta.
Jingga seorang gadis remaja yang penuh semangat. Jiwa seni yang ada pada dirinya membuat dia menjadi suporter bagi rekannya yang “cupu” bernama Inez.
Ello seorang pemuda yang broken home, ia sangat membenci pada sosok papah. Kebencian itu bermula saat ia dan sang mamah ditinggal oleh papah ke Jakarta. Maklum papah seorang pelukis yang cukup terkenal. Hingga suatu hari, mamah mengetahui bahwa papah telah menikah lagi. Ello mengetahui bahwa papahnya memilki anak dari istri kedua, yang umurnya tidak jauh beda dengan Ello.
Seperti apakah akhir kisah cinta Jingga?, Vincent atau Ello kah yang akan ia pilih? Apakah kebutaan kebutaannya menghalanginya untuk melihat siapa cinta sejatinya?.
Cerita ini begitu menyentuh, mengalir apa adanya. Sebuah penertian tanggung jawab sangat diutamakan. Seorang perempuan menanti teman kecilnya kerena pendidikannya. Sangat mengerti sekali. Dan seorang laki-laki yang rela mati dan mendonorkan kornea maranya karena perbuatan dan demi orang yang ia sayangi.
Namun, dibalik kelebihan tentu ada kekurangan. Bahasa yang digunakan terlalu “gaul”, sehingga novel ini cocok untuk dibaca untuk remaja. Konflik pada novel ini pun terjadi antara Ello dan Vincent yang notabene adalah saudara seayah.
Monday, 28 November 2011
//
kategori
ilmu pengetahuan
//
0
komentar
//
0 komentar to "sensi novel pelangi jngga (lyah marly handani)"





Post a Comment