karya: ratna wulandari
Prolog :
Setiap manusia yang hidup pasti akan mengalami kematian, namun
kematian itu tidak satu orang pun yang mengetahuinya, kapan, dimana dan
bagaimana mereka mengalami kematian itu.
Orang yang meninggal tidak akan membawa apa-apa melainkan amal
ibadah dan perbuatannya. Setiap perbuatannya akan dipertanggung jawabkan dialam
kubur. Orang yang memiliki ahlak yang mulia dan perbuatan baik saat mereka
hidup maka mereka mendapatkan ketenangan,
sementara orang yang hidup didunianya penuh dengan perbuatan dosa, kelak dialam
kuburnya akan mendapatkan siksa, namun apa yang terjadi ketika seorang pendosa
diberi kesempatan kedua untuk hidup didunia ini ????
Adegan I
Ketika memasuki area pertunjukkan, empat orang masuk untuk berziarah
ke kuburan. Dan mendekati salah satu kuburan, kemudian menaburkan bunga dan
menyiramkan air serta berdoa. Setelah beberapa saat dan selesai berziarah
keempat orang itu meninggalkan tempat pemakaman.
Adegan II
Empat orang pembawa keranda berjalan terseok-seok, tertatih dengan wajah
penuh nestapa. Bergerak pelan, diiringi 10 orang, pasukan duka. (kira-kira berjalan
selama 10menit hingga sampai diarea pertunjukkan/pemakaman).
Tiba di pemakaman mereka meletakkan keranda dengan perlahan.
Kemudian beberapa wanita dari pasukan duka mendekati keranda sambil salah seorang
diantaranya menyiapkan peralatan memandikan jenazah. Tapi satu dari mereka
berempat mencegah. Sontak seluruh pasukan duka terheran-heran dah saling
berpandangan sebelum akhirnya surut ke belakang. Lalu memandang ke arah seorang
pria dari pasukan duka yg maju, mengayunkan cangkul ke arah gundukan tanah.
Tiba-tiba keempat pembawa keranda bereaksi keras. Mereka mengusir
para pasukan duka yang kemudian meninggalkan mereka.
Keempat pembawa keranda memangsa jenazah dengan ganasnya. Saat itu
muncul pasukan setan yang bertanduk. Mereka bersuka cita karena jenazah pendosa
akan segera menjadi bagian dari pasukannya.
''Dia pernah menjadi
sekutuku, ahaha. Dia adalah seorang penurut yang mengiyakan semua bujukanku,
dia menelan barang haram, dia berdusta, dia mencuri, dia tidak menjaga
auratnya, tidak memelihara kelaminnya. Pejina, dasar pejina! Ahaha.' (mereka menari-nari, lalu pergi)
Tiba-tiba para pembawa keranda kesakitan. Leher mereka seperti
tercekik. Mereka mengerang sambil mendelik sebelum akhirnya tumbang mencium
bumi (mereka tertidur sekitar 5 menit, mengambil posisi yang mengenakkan).
Kemudian dua pria cahaya masuk dengan perlahan. Seorang pria yang
lebih besar(salah seorang dari pria cahaya) tertatih menyeret gada yang luar biasa
berat. Seorang yang lain sesekali berjalan, dengan muka nyalang mengedarkan
pandangnya. Sesekali tangan kirinya menunjuk ke arah penonton.
Tiba di depan keranda mereka memandangi ke arah keranda dengan
nyalang. Sejurus kemudian pembawa gada mengerahkan segenap tenaganya mengangkat
gada, siap dihantamkan pada tubuh dalam keranda sebelum akhirnya dicegah pria
cahaya 1.
''Dia memang pendosa, tapi
sekarang belum tiba waktumu menjalankan tugas.'' (sambil
menunjuk ke arah keranda lalu bergegas pergi).
Tiba-tiba perlahan jenazah itu bergerak dan bangkit dengan lolongan
yang menyayat. Dia mendapati tangan kirinya yang tak lagi utuh. Memegang
mukanya.
Empat pembawa keranda mulai bergerak, menggeliat dan bangkit.
Memandangi, mengelilingi jenazah mati suri yg beringsut pergi. Mereka mengekori
sambil merangkak.
Adegan III
Muncul empat orang pria berjalan perlahan membawa kerodong kain berbentuk
tabung. Lalu mereka tersungkur. Ternyata di dalamnya tiga orang wanita. Dua
orang berdiri dan satu orang merunduk. Perlahan dua wanita itu bergerak,
begitupun keempat laki-laki yang yang kemudian oleh kedua wanita dipasangi
semacam tali kekang. Dua wanita lalu menuntun wanita yang masih merunduk untuk
duduk di atas kereta kecil yang kemudian ditarik empat pria. Sampai di depan
keranda, wanita itu turun, lalu mulai menari. Empat pria yang telah diminta
segera mundur membawa serta kereta. Memandangi dari kejauhan wanita yang
menari-nari lalu rebah di atas keranda. Dua wanita berpuisi (kendara, kendara,
kendara, keranda! Kendara apa yang kau pilih mengantarkanmu menuju kemashuran,
kendara apa yang kau pinta sbg tunggangan, kendara apa yang kau kejar sebagai
pengantar. Tapi ingat satu-satunya pengantar yang pasti, menuju hidup kekalmu,
menjemput rumah kesendirianmu hanyalah ke ran da! Ke ran da!).''
Dua wanita pergi meninggalkan
wanita penari yang terkulai di atas keranda.
Empat pria maju mengangkat wanita penari dalam keranda.
Epilog
“Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padaNya, maka
sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan di kembalikan
kepada (ALLAH) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan
kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
0 komentar to "Drama: KERANDA"





Post a Comment